Trading dan Investasi

ad1

Zona Dewasa

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Ia juga memberi pemahaman pada anak-anak dan suami yang tinggal bersama di rumah tentang bagaimana menjaga Alinea dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Ibu Teresia juga berkali-kali mengingatkan untuk selalu memberitahunya jika Alinea terluka fisik, karena anak-anaknya sendiri masih belum begitu paham bagaimana harus merawat adik angkatnya.

Ibu beranak 5 ini sudah sejak 2014 mendampingi 8 orang dengan positif HIV, selain mengurus keperluan rumah tangga dan anak-anaknya sendiri, ia aktif mengunjungi dan menemani pasien HIV untuk mendapat perawatan juga pengobatan di rumah sakit.

“Orang dengan HIV butuh didukung, terutama oleh keluarga sehingga mereka tetap memiliki semangat untuk hidup.”

Setiap penjelasan dari Ibu Teresia selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Di antara pasien-pasien yang didampingi Ibu Teresia, terdapat seorang ibu hamil dengan HIV positif, kondisi seperti ini dapat mengancam janin yang sedang berada di dalam kandungan. Bukan tidak mungkin bayi tersebut lahir dengan terinfeksi virus dari ibunya. Oleh karena itu semua ibu hamil pun harus menjalani tes HIV selama masa kehamilan. Kini tes tersebut sudah menjadi salah satu dari rangkaian pemeriksaan kehamilan di seluruh pusat pelayanan kesehatan.

“Janin itu kan tidak bersalah, mereka bahkan tidak mengerti apa-apa yang dialami ibunya. Saya ingin ikut membantu mereka dapat terhindar dari virus ini.” Ucap Ibu Teresia setelah menunjukkan beberapa buku panduan kesehatan yang selalu ia bawa setiap kali kunjungan ke rumah-rumah pasien.

Sejauh ini, sebanyak lebih dari 1000 orang terinveksi HIV di Kabupaten kupang (berdasarkan data dari pusat pelayanan kesehatan). UNICEF bersama pemerintah terus berupaya untuk memastikan sistem pelayanan kesehatan dapat menjangkau ibu hamil dan mencegah setiap anak yang lahir terinveksi virus HIV, hingga tidak ada lagi anak yang harus lahir menderita karena penyakit-penyakit yang bisa dicegah. Program Pencegahan Penyakit Menular dari Ibu ke Anak diharapkan juga dapat memudahkan langkah gerak relawan Peduli AIDS seperti Ibu Teresia.

Salah satu peran penting Ibu Teresia juga memastikan ibu hamil yang ia dampingi mengkonsumsi ARV secara rutin. “Semoga tidak ada lagi bayi-bayi yang lahir terinveksi virus ini.” Ungkapnya.

Setiap ibu hamil dengan HIV positif, harus mengkonsumsi ARV (Antiretroviral) atau obat untuk menekan jumlah virus yang berkembang di dalam tubuh si ibu sehingga dapat menurunkan kemungkinan bayinya terinveksi. Namun ketika bayi itu lahir, pengecekan darah dan status HIV harus rutin dilakukan pada seorang anak hingga usia 18 bulan, guna memastikan anak tersebut tidak terinfeksi HIV dari ibunya.

Kepedulian yang diperjuangkan oleh Ibu Teresia membawa saya pada potongan lirik lagu kasih ibu. Kasih sayangnya tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi dan tak harap kembali.

Ibu Teresia bukan hanya sekedar ibu angkat untuk Alinea, ialah cahaya yang akan terus menyinari langkah Alinea, kelima anaknya dan anak-anak lain di Kupang yang ingin ia selamatkan.


*Seluruh nama di dalam tulisan ini telah disamarkan, demi menghargai hak-hak anak.

Kasih Sayang Ayah Melindungi Sakira dan Sahira dari Malaria

Kasih Sayang Ayah Melindungi Sakira dan Sahira dari Malaria

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer

Sakira dan Sahira saat dimandikan ayah dan ibunya. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Kembar Sahira dan Sakira sedang dimandikan oleh Ayah dan Ibunya ketika Tim UNICEF datang ke rumah mereka di Desa Ligan, - Kabupaten Aceh Jaya. Ibu mereka adalah seorang guru baca Qur'an dan ayahnya - Pak Saidi bekerja untuk untuk dinas sosial sebagai pencatat data kependudukan.

Hutan di area dekat rumah Sakira dan Sahira. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan dari Kota Banda Aceh menuju Desa Ligan. Rumah mereka terletak hanya sepuluh menit dari area konservasi gajah sumatera, dikelilingi hutan tropis dan juga area penambangan emas. Selain itu banyak juga tempat bersarang induk-induk nyamuk Anopeles, pembawa penyakit malaria pada manusia.

Satu bulan lalu saat Sakira dan Sahira berulang tahun yang pertama, tetangga seberang rumah mereka mengalami sakit malaria, bukan tidak mungkin mereka juga akan tertular. Menurut Dokter Endang Sumiwi - spesialis malaria UNICEF Indonesia, rendahnya imunitas malaria pada balita seperti Sakira dan Sahira menyebabkan potensi sakit berat dan kematian karena malaria lebih tinggi jika mereka tertular malaria. Selain itu malaria pada anak-anak dapat mengakibatkan anemia, stunting  dan terganggunya perkembangan.

Ayah mereka sempat bercerita pengalamannya sakit malaria tahun 2011 lalu  "Rasanya itu sangat sakit, terasa panas di dalam tulang, dingin dan badan menggigil. Saya tidak ingin, anak-anak saya sampai tertular malaria, pasti kasihan sekali." Ujar Pak Saidi.


Pak Saidi setelah memandikan kedua anak kembarnya. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Sejak tahun 2005 hingga kini UNICEF telah mendukung pemerintah untuk melakukan berbagai upaya untuk penanganan malaria di Aceh. Mulai dari penyediaan kelambu, perlengkapan laboratorium  di tahun-tahun pertama hingga bantuan langsung secara teknis kepada para petugas lapangan yang diterjunkan oleh pemerintah, seperti pelatihan petugas lab dan Juru Malaria Desa/Lingkungan.

Di Desa Ligan sendiri sudah hampir tidak ada lagi anak-anak yang tertular malaria, berkat upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara disiplin oleh para Juru Malaria terlatih dan perangkat desa setempat. Menurut Pak Saidi, area rumah mereka rutin dikunjungi untuk pemeriksaan jentik nyamuk, pengecekan kondisi kelambu dan tes darah seluruh anggota keluarga, terutama jika ada yang mengalami demam tinggi disertai dengan rasa menggigil.

"Kalau ada yang demam hingga menggigil di rumah atau tetangga sekitar sini, pasti harus langsung cek darah, kalau sampai itu malaria, harus segera diobati agar cepat sembuh dan tidak berbahaya untuk anak-anak." Cerita Pak Saidi.

Salah satu tantangan terbesar para petugas dan dokter adalah pengobatan malaria itu sendiri, karena setiap pasien malaria harus rutin meminum obat setiap hari selama 14 hari, tidak boleh sampai terlewat satu haripun. Menurut Dokter Dita Ramadonna - Malaria Officer UNICEF untuk Provinsi Aceh, tantangan terberat dalam pengobatan malaria adalah kedisiplinan dari pasien untuk meminum obat "Biasanya di hari ketiga itu badan sudah terasa enak jadi pasien sering kali merasa tidak butuh untuk minum obat lagi. Di situlah peran petugas-petugas terlatih untuk juga membangun relasi yang baik dengan pasien, agar saran-saran mereka didengar dan dilakukan oleh pasien." Jelas Dokter Dita.

Dokter Dita Ramadonna bersama Fahrul – balita yang saat ini bapaknya sedang mengalami sakit malaria. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Selaman 10 tahun sejak upaya UNICEF pertama kali dilakukan untuk menyelamatkan anak-anak dari bahaya malaria, Provinsi Aceh telah hampir berhasil mencapai status bebas malaria. Dari 23 kabupaten di Provinsi Aceh, hanya tersisa 4 kabupaten yang masih memiliki penularan malaria.  Hal ini juga hasil dari bantuan jangka panjang para Pendekar Anak UNICEF Indonesia yang percaya bahwa setiap anak berhak terlindungi dan mencapai potensi terbaiknya.

Sahira bersama Pak Saidi di teras rumah. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Sama juga seperti semua ayah di seluruh dunia yang selalu ingin melindungi anak-anaknya. Pak Saidi berharap Sakira dan Sahira dapat terlindungi dari bahaya-bahaya yang mengancam termasuk penyakit malaria. "Saya berharap tidak ada lagi malaria di desa saya ini agar anak-anak saya bisa hidup aman dan bertumbuh kembang dengan baik." Ucap Pak Saidi sebelum pamit keluar rumah untuk menimang salah satu anak kembarnya.




Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Yuda dan Ence bermain bersama di samping tenda pengungsian. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Jemari Yuda(11) menggenggam erat lengan Ence(6) adik kecilnya yang baru saja bersama-sama mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka berjalan pulang berdua, bukan ke rumah tetapi menuju tenda pengungsian, tempat di mana semua anggota keluarganya saat ini tinggal.

“Rumah kami sudah rata dengan tanah kak, sekolah juga. Kami tinggal di sini sekarang.”Ucap Yuda saat sampai di sebuah tenda terpal berwarna biru dengan ukuran lima kali tiga meter. Sore hari itu suhu udara mencapai 31 derajat celcius, sejak lumpur basah menelan rumah mereka dan seluruh Area Petobo, Yuda dan Ence tidak lagi mendapat kenyamanan untuk beristirahat apalagi bermain.

Rumah Ence dan Yuda habis ditelan lumpur di Area Petobo. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Ibu mereka, Ence masih sering menangis di malam hari ketika menjelang tidur. “Mungkin masih takut, tapi sudah dua hari ini bermain di tenda sana, dia jadi lebih banyak senyum.”Ibu Heriyanti bercerita sambil menidurkan adik Yuda yang masih bayi.


Tenda yang dimaksud Ibu Heriyanti adalah Pos Layanan Perlindungan Anak yang didirikan dan dikelola oleh UNICEF bersama dengan Kementerian Sosial. Saat ini Pos tersebut sudah berdiri di 6 titik pengungsian bersama serta 14 pekerja sosial yang memberikan layanan dukungan psikososial, pendataan anak terpisah, penelusuran dan penyatuan kembali anak dan keluarga. Kesembilan pekerja sosial ini juga telah mendapat pelatihan tentang perlindungan anak dalam kedaruratan yang dibekali oleh UNICEF dan Kementerian Sosial.

Selama bermain dan bernyanyi bersama di pos, Yuda tidak pernah berada jauh dari sisi Ence. Ketika terpisah jarak dua hingga tiga meter, Yuda akan menukar posisinya dengan anak-anak lain untuk kembali berada di samping Ence.

Yudha (11) bercita-cita ingin menjadi pemain bola seperti Evan Dimas (atlet sepak bola Indonesia). ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

“Mama bilang saya harus pegang Ence terus, main bersama-sama, pulang juga.”Yuda bercerita di samping tenda pengungsian. Dua kakak beradik ini sempat terpisah ketika gempa terjadi, Ence bersama ibunya lari tunggang langgang ke arah berbeda dengan Yuda yang digendong oleh pamannya. Tidak sampai dua jam setelah kampung mereka hilang ditelan lumpur, seluruh anggota keluarga Yuda dan Ence telah berkumpul di lokasi pengungsian saat ini.

Terpisahnya anak-anak seperti Yuda dan Ence dari anggota keluarga sangat mungkin terjadi ketika bencana datang, banyak anak dilaporkan hilang oleh orang tuanya, sampai saat ini 4 anak yang ditemukan terpisah kini telah dipersatukan kembali dengan anggota keluarga. Itu sebabnya penyatuan kembali anak-anak dengan anggota keluarga mereka (Family Tracing and Reunification)menjadi fokus utama UNICEF bersama Kementerian Sosial pasca bencana di Sulawesi.

Keinginan Yuda untuk tetap selalu berada di samping Ence adalah bentuk kekhawatiran seorang Kakak yang tidak ingin lagi terpisah dari adiknya. Kampung halaman mereka sudah hilang, boneka dan permainan-permainan lainnya habis tidak tersisa, bahkan teman sepermainan mereka hanya satu dua yang masih dapat mereka temui.

“Saya tidak tahu sampai kapan tinggal di tenda seperti ini. Tapi yang penting anak-anak semua lengkap bersama saya dan bapaknya, tidak terpisah.”Ucap Ibu Heriyanti.

Aku suka main-main di tenda sama kakak-kakak, bernyanyi, lipat-lipat kertas origami." Ucap Ence, kakak-kakak yang dimaksud adalah para pekerja sosial. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Di hari-hari ke depan, hidup kedua kakak beradik ini akan terus berubah, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tetapi bersama-sama kita bisa pastikan Yuda dan Ence tidak lagi terpisah dan akan terus tergenggam erat dengan anggota keluarganya.

Bersama UNICEF dan Pemerintah, kita pastikan setiap anak dapat kembali tersenyum dan menjalani hidupnya tanpa rasa takut bersama Ibu, Ayah dan anggota keluarga lainnya.


Di 'Pulau Rempah' Ambon Tak Satu Anakpun Boleh Luput Dari Program Vaksin MR

Di 'Pulau Rempah' Ambon Tak Satu Anakpun Boleh Luput Dari Program Vaksin MR


Oleh: Tomi Soetjipto

Satu hari di bulan September adalah hari yang memiliki arti tersendiri bagi anak-anak di Waimahu Passo di kota Ambon, ibukota provinsi Maluku. Ada sekitar 23 anak yang terdaftar untuk menerima vaksin MR, sebagai bagian dari kampanye nasional imunisasi untuk 31,9 juta anak. Terletak di Indonesia bagian timur ini, Ambon adalah bagian dari kepulauan Maluku yang terkenal dan pernah menjadi tujuan utama negara-negara penjajah untuk mencari rempah-rempah. 

Dengan penuh keyakinan bak seorang tentara, Jupe Rusmani, empat tahun, masuk ke ruangan kecil yang dipenuhi oleh para pekerja kesehatan yang memegang jarum suntik.  Ketenangannya mengejutkan semua orang, termasuk Ibu Jupe, Nor Rusmani yang menunggu di luar sambil tersenyum lega. 
Armendo Fransesco menerima vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018

"Berani sekali kamu nak," ujar salah seorang perawat sebelum ia menyuntikkan vaksin penyelamatan dan Campak dan Rubella (MR) pada lengan kiri atas Jupe. Ketika ditanya oleh bibinya apakah ia merasakan sakit, Jupe menggeleng dengan tegas. 

Sikap Jupe menambah kepercayaan diri anak-anak lain untuk dengan yakin  termasuk Gloria Titahena yang berusia delapan tahun. Untuk menutupi rasa takutnya ia tidak membuka mata ketika jarum suntik itu diletakkan di lengan atasnya yang kurus. Dengan senyum malu, Gloria kemudian berpose untuk untuk difoto memegang tulisan dalah bahasa setempat, “Beta brani disuntik Rubella”. Anak lain, Armendo Fransesco, lima tahun, seorang anak laki-laki yang lincah dengan rambut keriting sebahu, memegang tanda lain yang bunyinya “Mau sehat? Harus Imunisasi Rubella ”

Hingga awal September, sekitar 50 persen anak-anak berusia di atas sembilan bulan hingga di bawah 15 tahun di kota Ambon, yang jumlahnya sekitar 50-ribu telah divaksinasi terhadap MR. Kota pelabuhan ini menargetkan sekitar 114 ribu anak divaksin, sementara target provinsi sekitar 514 ribu anak.
Para ibu di Waimahu Passo di kota Ambon,membawa anak-anaknya untuk menerima vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018

Waimahu Passo adalah lingkungan yang punya sejarah tersendiri. Komunitas rumah darurat dibangun dari sebuah bab gelap dalam sejarah Ambon kala kota mengalami kerusuhan massa pada tahun 1999. Seluruh penduduknya yang berjumlah sekitar 300 penduduk yang tinggal di wilayah padar penduduk ini ini kehilangan rumah dan harta benda mereka ketika kekacauan melanda Ambon.

18 tahun berlalu, komunitas ini telah menjadikan Waimaho Passo sebagai rumah baru mereka, banyak dari mereka telah menemukan pekerjaan di sektor informal sebagai penjual sayur atau ojek.

LSM lokal, Yayasan Pelangi Maluku, telah bekerja keras untuk melakukan vaksinasi untuk anak-anak di komunitas ini 

“Pada awalnya kami mendekati tokoh masyarakat tentang rencana pemerintah, lalu kami datang ke komunitas ini beberapa kali, memberi tahu mereka tentang bahaya MR. Sejauh ini respon nya luar biasa, ”kata Rosa Penturi, Kepala Yayasan, berbicara saat tangan kirinya ditutupi boneka kaus kaki. Saat itu Rosa tengah melakukan pertunjukan boneka dan bernyanyi untuk meredakan ketegangan anak-anak.
Rosa Penturi sedang melakukan pertunjukan boneka dan bernyanyi untuk meredakan ketegangan anak-anak selama proses pemberian vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018


MEMBANGUN KEPERCAYAAN KE KOMUNITAS

Duduk di sebelah Rosa adalah kepala Passo Puskesmas, dr. Eka. M. Susanti yang juga merupakan salah satu tokoh pendukung kampanye MR menyatakan "tidak ada anak yang tertinggal. Untuk mencapai tujuan ini, para pejabat kesehatan telah bekerja sama dengan pekerja komunitas."

"Kampanye ini sangat membantu membangun kepercayaan kepada masyarakat…. penduduk di sini tidak punya waktu untuk membawa anak-anak mereka ke Puskesmas. Kita yang harus pro-aktif mendatangi mereka, ” kata Dr Susanti, menambahkan bahwa mereka telah mengadakan beberapa sesi imunisasi di lingkungan yang sama sebelumnya.
Kepala Puskesmas Passo dr. Eka. M. Susanti dan anak-anak yang sudah menerima vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018 

Semua anak di komunitas ini optimismistis  tentang masa depan mereka. Jupe ingin menjadi dokter; Gloria melihat dirinya sebagai seorang polisi wanita dan Armendo berharap untuk menjadi seorang guru.

Di tempat lain, di pusat kota Ambon, di sebuah daerah padat penduduk, Gang Buntu di Honipopu, sekelompok anak-anak yang berasal dari keluarga kurang beruntung berkumpul pada suatu sore untuk berbagi pengalaman vaksinasi MR mereka. Salah satunya adalah Mutiara Palappesi berusia 13 tahun, siswa kelas delapan yang telah divaksin MR di sekolahnya, SMP Alhilal.

Ibu Mutia dulunya seorang penyapu jalan sebelum memutuskan untuk tinggal di rumah untuk menjaga adik perempuannya yang berumur 5 bulan. Kini hanya ayahnya yang menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Ia  bekerja sebagai penyapu jalan dan pengumpul sampah, membawa pulang kardus untuk dijual kembali. Selama percakapan dengan Mutia, terlihat jelas bahw ia punya informasi yang baik tentang MR. Meskipun ia mungkin tidak tahu istilah teknis, tetapi cukup paham dalam menguraikan gejala MR.

Dengan kepolosan seorang anak, saat ditanya apa cita-citanya, begini jawabnya "Saya ingin menjadi PNS (pegawai negeri) ... Saya suka melihat para PNS, karena mereka selalu sibuk, dan seragamnya bagus."

Mutia menghabiskan malamnya untuk menambah penghasilan tambahan bagi keluarga. Setiap malam ia menjual lima surat kabar di jalan utama kota Ambon; untuk setiap penjualan, koran yang terjual ia mendapat Rp 1000. 

Jalan mereka mungkin panjang dan rumit, tetapi imunisasi MR memang langkah pertama dalam mewujudkan tujuan mereka.
 Armendo Fransesco yang pemberani setelah menerima vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018 



Laporan Tahunan UNICEF Indonesia 2017

Laporan Tahunan UNICEF Indonesia 2017

Selamat Datang di Laporan Tahunan UNICEF Indonesia 2017

Silakan undah laporannya disini: Bahasa Indonesia English
TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGs) DIMULAI DARI ANAK
Dalam kata pengantarnya, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Gunilla Olsson menyebutkan beberapa program yang dapat dibaca atau ditonton dibawah ini.
  
 





Di UNICEF, kami percaya bahwa pembangunan berkelanjutan berawal dari anak dan tahun ini kami selangkah lebih dekat untuk menjadikan kepentingan anak lebih terlihat dalam SDGs. Bersama dengan pemerintah, kami telah menerbitkan Laporan Baseline SDG tentang Anak-Anak di Indonesia, sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan. Silakan unduh laporannya disini
Bahasa Indonesia
English
SDG Online Dashboard




Di Jawa, kami telah melatih bidan-bidan menggunakan platform Infobidan, sehingga kini lebih dari 20.000 bidan yang melayani perawatan bayi baru lahir dapat mengakses informasi dan kiat penting seputar pekerjaan mereka melalui ponsel. Silakan membaca tentang programnya disini:
Bahasa Indonesia
English


Tahun ini kami juga bekerja keras untuk memberikan anak muda kesempatan bersuara dan mendengar pandangan mereka. Lebih dari 110.000 anak muda berdialog antar mereka dan dengan pembuat keputusan (melalui platform “U-Report”), untuk mempromosikan investasi yang lebih besar lagi bagi kesejahteraan anak. Silakan membaca tentang programnya disini: Bahasa Indonesia English


Kami juga melakukan survei kesejahteraan yang sepenuhnya bersifat sukarela dan merupakan yang pertama untuk survei jenis ini, bersama lebih dari 24.000 anak usia 8 hingga 12 tahun.
Silakan membaca tentang programnya disini:
Pioneering survey asks 8-12-year-old Indonesians: what's life like?




Data baru tentang keuangan dan kemiskinan anak multidimensi yang diproduksi bersama Badan Pusat Statistik (BPS), menyoroti ketimpangan di Indonesia. Laporan ini mendukung diperkenalkannya dana bantuan universal bagi anak oleh pemerintah daerah di Aceh dan Papua. Silakan unduh laporannya disini:
Bahasa Indonesia
English


 
30.000 remaja perempuan dan lelaki mendapat manfaat dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran tentang menstruasi, juga membantu mendobrak pola-pola diskriminasi dan menjaga agar anak-anak perempuan tetap bersekolah. Silakan menonton videonya di sini: MHM Awareness



Platform pemantauan berbasis SMS yang inovatif untuk memfasilitasi respon cepat bagi imunisasi 35 juta anak dalam kampanye Campak dan Rubella yang dipimpin oleh Kementerian Kesehatan. Platform ini direplikasi untuk intervensi terhadap malaria, HIV, dan penyakit-penyakit lainnya. Silakan membaca tentang programnya disini:
Bahasa Indonesia
English


Kesuksesan implementasi program percontohan literasi, yang berdampak pada peningkatan literasi hingga dua kali lipat di kalangan anak-anak kelas awal sekolah dasar di wilayah-wilayah terpencil Papua dan Papua Barat. Silakan menonton videonya disini: Papua Membaca


Program baru pencegahan perundungan yang dipimpin oleh remaja di sekolah-sekolah di Makassar telah berdampak mengurangi perundungan hingga 30 persen. Silakan membaca tentang programnya disini:
Bahasa Indonesia
English

Susah Air

Susah Air


Oleh: Firza Daud, Fundraiser Coordinator UNICEF Indonesia

Sumba adalah salah satu pulau yang kini menjadi destinasi wajib untuk dikunjungi oleh para petualang di Indonesia.

Ironisnya di balik semua lanskap keindahan yang tersaji di pulau Sumba, masih juga ditemukan beberapa kesulitan terutama yang berhubungan dengan kebutuhan pokok hidup, yang ada di pulau yang secara administratif menjadi bagian dari wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur.

Salah 1 kesulitan yang hingga saat ini masih menjadi masalah utama di pulau Sumba adalah tentang pasokan air bersih dan sanitasi. Kedua hal ini akan sangat erat berkaitan terutama dalam kehidupan sehari-hari, karena apabila kebutuhan air bersih untuk sebuah komunitas masyarakat di suatu daerah tidak dapat tercukupi dengan baik maka bisa dipastikan sanitasi yang ada di wilayah itu secara otomatis akan ikut terkena dampaknya. Dan dampaknya  tidak bisa dipungkiri, anak-anak akan menjadi salah 1 korban yang paling dirugikan sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang ada di wilayah tersebut.


Sebagai bagian dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang sangat peduli dengan hak-hak dasar seorang anak, UNICEF Indonesia memiliki perhatian khusus dengan seluruh permasalahan yang berdampak terhadap tumbuh kembang seorang anak. Termasuk dalam hal ini issue seputar kesulitan air & sanitasi yang terjadi di pulau Sumba. 

Kegiatan bersama anak-anak di Sumba Barat Daya, salah satu sekolah yang mendapat program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. ©Firza/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Pak Zainal – WASH Officer dari Kantor UNICEF Kupang, apabila terdapat seorang anak yang tumbuh dan berkembang dengan keterbatasan pasokan air bersih untuk kehidupannya, maka bisa dipastikan anak-anak itu sangat rentan terkena stunting. Ini tidak hanya berkaitan dengan lambatnya pertumbuhan fisik seorang anak, namun ditengarai juga berpengaruh kepada tidak maksimalnya perkembangan otak anak, hingga menjalar ke kemampuan belajar dan mental anak itu sendiri.

Stunting bisa terjadi karena beberapa faktor, selain kurangnya gizi yang seimbang sejak anak dalam kandungan, ketidakseimbangan hormon yang dipicu stress, juga riwayat kesehatan anak yang sering terserang infeksi di usia dini dikarenakan tumbuh dan berkembang dari lingkungan yang tidak memadai, salah satunya kebutuhan dasar akan air bersih dan sanitasi tadi.

Berangkat dari pemahaman tersebut, UNICEF Indonesia bekerjasama dengan BAPPEDA (Badan Perencanaan Penelitian Pengembangan Daerah) akan memastikan setiap anggaran pendapatan dan belanja daerah dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, yang tidak hanya untuk jangka waktu singkat namun jangka panjang dan berkelanjutan.

Salah 1 program yang diinisiasi oleh UNICEF Indonesia untuk mengatasi masalah ini adalah lewat gerakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)  yang secara aktif mengajak seluruh komponen masyarakat baik dari tingkat Pemerintah Daerah, Kepala & Aparat Desa hingga seluruh warga yang ada untuk bersama-sama dan secara swadaya menyadari akan pentingnya keberadaan jamban yang sehat dan layak.

Kesadaran ini telah berhasil dibuktikan di salah 1 desa Wipatando yang terletak di wilayak kabupaten Sumba Barat Daya. Dari total jumlah penduduk sebanyak 514 KK (Kartu Keluarga) sebanyak 316 KK sudah berhasil membangun jamban permanen di rumah tempat tinggal mereka dan 101 KK sudah memiliki jamban semi permanen yang saat ini kondisinya juga sudah jauh lebih layak dibandingkan sebelum progam STBM ini dijalankan.

Jamban di salah satu rumah masyarakat Sumba Barat Daya. ©Firza/UNICEF Indonesia/2018

Tahun 2018 ini Kepala & Aparat Desa di Wipatando juga berhasil memberikan bantuan sebanyak 30 jamban kepada 97 KK yang saat ini masih menggunakan jamban darurat, dimana dana yang digunakan 100% berasal dari dana kas Desa Wipatando, yang bahkan tidak sedikit dari situ muncul kesadaran secara kolekftif dan swadaya masyarakat untuk mulai membuat, memperbaiki bahkan memperbagus lagi kualitas jamban yang telah mereka miliki.

Selain dari progam STBM yang telah berjalan, UNICEF Indonesia juga berupaya untuk membangun kesadaran sejak usia dini akan pentingnya kebutuhan air bersih dan sanitasi lewat kegiatan sehari-hari disekolah melalui kampanye Cuci Tangan Pake Sabun (CTPS). Hal ini terbukti lewat kunjungan yang kami lakukan ke SD Kanelu yang terletak di Dusun Dangga Dora. Sebagai salah 1 sekolah yang dijadikan sebagai SD percontohan oleh Pemerintah Daerah setempat, Kepala Sekolah, Guru dan seluruh murid SD Kanelu dengan jumlah total sekitar 257 orang telah berhasil menerapkan pola hidup sehat dalam kegiatan belajar mengajar setiap harinya.

Anak-anak mencuci tangannya setelah berkegiatan di sekolah.©Firza/UNICEF Indonesia/2018

Dengan dibangunnya fasilitas toilet yang layak dan terpisah antara murid laki-laki dan perempuan adalah salah 1 bukti nyata upaya Pemerintah Daerah dalam menerapkan kesadaran pentingnya sanitasi & kebutuhan air bersih sejak usia dini. Selain tersedianya fasilitas 4 toilet dengan kondisi jamban permanen yang layak dan bersih, para murid di SD Kanelu juga diajarkan untuk selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun setiap kali mereka akan makan atau selepas dari melakukan kegiatan luar ruangan.

Diharapkan lewat rangkaian gerakan kecil ini dapat memberikan sebuah harapan baru akan pentingnya kesadaran dari kebutuhan air & sanitasi yang layak, bukan hanya buat para tamu yang akan berkunjung dan menikmati keindahan pulau yang juga terkenal dengan kuda Sumba-nya dalam waktu singkat namun juga untuk seluruh penduduk dan warga lokal yang mendiami pulau yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan dan barat pesisirnya, khususnya untuk seluruh anak-anak Sumba yang akan menjadi masa depan untuk kehidupan di pulau Sumba yang lebih baik lagi.

ad2

Iklan Gratis

Peluang Bisnis

Berita Terkini

Chord dan Lirik

Tempo Doeloe